Kembali
Mungkin tahun 2012 adalah masa-masa ketika saya meluangkan sebagian besar waktu saya untuk menulis. Menulis cerita pendek dan puisi pada tepatnya. Saat itu saya bergabung di grup kepenulisan dan mengikuti kegiatan-kegiatan menulis cerita pendek. Dari sekian banyak tulisan yang saya kumpul, beberapa berhasil dimuat di buku antologi cerpen.
Selain sibuk menulis cerpen, saya juga sempat belajar menulis skenario film televisi. Saya tidak ingat apakah saya pernah mengirimkannya kepada penulis senior yang sudah sering menulis skenario film. Yang saya ingat adalah bahwa saya masih menyimpan file skenario film televisi itu di kumpulan tulisan saya di laptop. Sepertinya kalaupun memang saya pernah mengirimnya, wajar saja tidak dilirik, ide ceritanya memang sangat biasa alias tidak menarik sama sekali. Hahaha. Payah.
It was 2012. 2013 and 2014? Not anymore. Sampai akhirnya pada tahun 2015 ada kegiatan kepenulisan lagi. Kali ini dengan tema dan event yang berbeda yaitu 30 Hari Menulis Surat Cinta. Beberapa dari teman-teman sekelas saya pada saat S1 pun ikut serta pada saat itu. Sepertinya jiwa-jiwa penulis kami muncul kembali setelah tenggelam ditelan skripsi dan mungkin tugas-tugas pascasarjana. Saya pun waktu itu sempat sibuk karena harus keluar kota demi mengejar beasiswa luar negeri. Well, I did it. Salah satu pencapaian yang menurut saya tidak mudah mengingat tingginya tingkat persaingan di kala itu. Karena kesibukan itulah saya sempat berhenti menulis.
Jadi, kalau bukan karena event 30 hari menulis surat cinta ini, saya mungkin tidak memiliki motivasi lagi untuk menulis saat itu. Padahal sejak SMA saya senang sekali menulis bahkan sampai berhabung di organisasi majalah dinding sekolah dan terpilih menjadi sekretaris, ketua saya saat itu adalah teman kamar daya di asrama. Kalian mungkin tidak tahu bahwa masa-masa SMA saya dihabiskan di Asrama SMA 17 Makassar dan entah kenapa saya malah dipilih menjadi Ketua Asrama Putri. Kalian mungkin juga bertanya-tanya mengapa saya tinggal di asrama sementara orang tua saya bertempat tinggal di Makassar. Well, it’s a long story and I’m not gonna talk about it in this post. Tulisan ini khusus tentang perjalanan kepenulisan saya yang sebenarnya sangat tidak penting untuk dibicarakan tapi tetap saja saya tulis. Hehe.
Lanjut lagi. Menerbitkan novel/buku adalah salah satu cita-cita saya yang belum tercapai hingga saat ini. Dulu saya sebenarnya pernah beberapa kali mencoba untuk menulis novel namun tidak satupun yang selesai hingga Bab terakhir. Di saat teman-teman kepenulisan saya tahun 2012 telah berhasil mengirim tulisan-tulisan mereka ke koran-koran ternama dan diberikan bayaran meskipun tak seberapa, saya malah tak mengalami perkembangan. Beberapa di antara mereka sekarang malah telah berhasil menerbitkan kumpulan puisi dan novel mereka di penerbit major. Ya tentu saja mereka berhasil karena ketekunan mereka dalam menulis. Sementara saya? Sibuk menggapai mimpi lain.
Menyesalkah saya? A little bit. Harusnya saya menuliskan kegiatan saya pada saat sibuk menggapai mimpi saya yang lain. Tapi saya tidak sempat melakukannya karena terlalu sibuk menjalani dan menikmatinya. Padahal saya bisa saja menikmati sambil mengabadikannya dalam sebuah tulisan.
Sebenarnya sejak berakhirnya event 30 hari menulis cinta itu, saya beberapa kali masih menulis cerita meskipun jarang. Saya benar-benar berhenti ketika akhirnya saya berangkat ke Inggris September 2015. Saat itu, apa yang ada dalam pikiran saya hanyalah rasa takjub karena negara yang selama ini tidak terpikir akan diinjak olehku dapat benar-benar kuinjak. Saya tidak berhenti bersyukur. Mungkin ini salah satu cara Tuhan untuk menyenangkan hati saya yang sempat galau saat itu.
Selain sibuk menulis cerpen, saya juga sempat belajar menulis skenario film televisi. Saya tidak ingat apakah saya pernah mengirimkannya kepada penulis senior yang sudah sering menulis skenario film. Yang saya ingat adalah bahwa saya masih menyimpan file skenario film televisi itu di kumpulan tulisan saya di laptop. Sepertinya kalaupun memang saya pernah mengirimnya, wajar saja tidak dilirik, ide ceritanya memang sangat biasa alias tidak menarik sama sekali. Hahaha. Payah.
It was 2012. 2013 and 2014? Not anymore. Sampai akhirnya pada tahun 2015 ada kegiatan kepenulisan lagi. Kali ini dengan tema dan event yang berbeda yaitu 30 Hari Menulis Surat Cinta. Beberapa dari teman-teman sekelas saya pada saat S1 pun ikut serta pada saat itu. Sepertinya jiwa-jiwa penulis kami muncul kembali setelah tenggelam ditelan skripsi dan mungkin tugas-tugas pascasarjana. Saya pun waktu itu sempat sibuk karena harus keluar kota demi mengejar beasiswa luar negeri. Well, I did it. Salah satu pencapaian yang menurut saya tidak mudah mengingat tingginya tingkat persaingan di kala itu. Karena kesibukan itulah saya sempat berhenti menulis.
Jadi, kalau bukan karena event 30 hari menulis surat cinta ini, saya mungkin tidak memiliki motivasi lagi untuk menulis saat itu. Padahal sejak SMA saya senang sekali menulis bahkan sampai berhabung di organisasi majalah dinding sekolah dan terpilih menjadi sekretaris, ketua saya saat itu adalah teman kamar daya di asrama. Kalian mungkin tidak tahu bahwa masa-masa SMA saya dihabiskan di Asrama SMA 17 Makassar dan entah kenapa saya malah dipilih menjadi Ketua Asrama Putri. Kalian mungkin juga bertanya-tanya mengapa saya tinggal di asrama sementara orang tua saya bertempat tinggal di Makassar. Well, it’s a long story and I’m not gonna talk about it in this post. Tulisan ini khusus tentang perjalanan kepenulisan saya yang sebenarnya sangat tidak penting untuk dibicarakan tapi tetap saja saya tulis. Hehe.
Lanjut lagi. Menerbitkan novel/buku adalah salah satu cita-cita saya yang belum tercapai hingga saat ini. Dulu saya sebenarnya pernah beberapa kali mencoba untuk menulis novel namun tidak satupun yang selesai hingga Bab terakhir. Di saat teman-teman kepenulisan saya tahun 2012 telah berhasil mengirim tulisan-tulisan mereka ke koran-koran ternama dan diberikan bayaran meskipun tak seberapa, saya malah tak mengalami perkembangan. Beberapa di antara mereka sekarang malah telah berhasil menerbitkan kumpulan puisi dan novel mereka di penerbit major. Ya tentu saja mereka berhasil karena ketekunan mereka dalam menulis. Sementara saya? Sibuk menggapai mimpi lain.
Menyesalkah saya? A little bit. Harusnya saya menuliskan kegiatan saya pada saat sibuk menggapai mimpi saya yang lain. Tapi saya tidak sempat melakukannya karena terlalu sibuk menjalani dan menikmatinya. Padahal saya bisa saja menikmati sambil mengabadikannya dalam sebuah tulisan.
Sebenarnya sejak berakhirnya event 30 hari menulis cinta itu, saya beberapa kali masih menulis cerita meskipun jarang. Saya benar-benar berhenti ketika akhirnya saya berangkat ke Inggris September 2015. Saat itu, apa yang ada dalam pikiran saya hanyalah rasa takjub karena negara yang selama ini tidak terpikir akan diinjak olehku dapat benar-benar kuinjak. Saya tidak berhenti bersyukur. Mungkin ini salah satu cara Tuhan untuk menyenangkan hati saya yang sempat galau saat itu.
Apakah menjadi penulis benar-benar bukan takdir saya?
3 tahun telah berlalu sejak kali terakhir saya benar-benar sibuk menulis. Mungkin sudah saatnya saya kembali bertualang di dunia ini. Lagi. Mohon doanya! :)
Makassar, 2 Juli 2018.
Auliya Sahril
Comments