Posts

Kembali

Mungkin tahun 2012 adalah masa-masa ketika saya meluangkan sebagian besar waktu saya untuk menulis. Menulis cerita pendek dan puisi pada tepatnya. Saat itu saya bergabung di grup kepenulisan dan mengikuti kegiatan-kegiatan menulis cerita pendek. Dari sekian banyak tulisan yang saya kumpul, beberapa berhasil dimuat di buku antologi cerpen.  Selain sibuk menulis cerpen, saya juga sempat belajar menulis skenario film televisi. Saya tidak ingat apakah saya pernah mengirimkannya kepada penulis senior yang sudah sering menulis skenario film. Yang saya ingat adalah bahwa saya masih menyimpan file skenario film televisi itu di kumpulan tulisan saya di laptop. Sepertinya kalaupun memang saya pernah mengirimnya, wajar saja tidak dilirik, ide ceritanya memang sangat biasa alias tidak menarik sama sekali. Hahaha. Payah.  It was 2012. 2013 and 2014? Not anymore . Sampai akhirnya pada tahun 2015 ada kegiatan kepenulisan lagi. Kali ini dengan tema dan event yang berbeda yaitu 30 Hari ...

Titikmu Titikku

Kau berada di sebuah titik dalam sebuah lingkaran yang besar.. Sedang aku bersama bayangku berada di luar titik lingkaran yang besar.. Aku mencari jalan untuk menembus benteng yang tak bersudut itu.. Tapi kau tahu.. Kau bahkan sudah menduganya.. Maka seberapa keras pun usahaku. Titikku adalah titik ini saja. Kau sudah tahu.. Sekeras apapun aku berusaha.. Titikmu takkan pernah menjadi titik kita.. Titikmu adalah titikmu.. Mungkin juga titiknya. Bodohnya.. Aku baru saja menyadarinya.. #titikmu #titikku #sajak @alzhainmelody

Aku dan 30 November

Image
Akkarena Beach, Makassar, Indonesia Tiba-tiba merasa haus. Tubuh gemetaran. Pikiran melayang. Lalu segelas air dingin berpindah dari wadahnya menuju kerongkongan. Berharap akan meredakan sedikit gelisah. Ada apa gerangan? Segelas air dingin itu rasanya tak memiliki pengaruh sama sekali. Aku terduduk di depan laptop ini sambil menuliskan apa yang ada dipikiranku. Apa yang kupikirkan? Hanya saya yang tahu, tapi saya sendiri tidak mampu untuk sekadar memindahkan isi kepalaku ke dalam tulisan ini. Hanya ini yang mampu saya tuliskan setelah beberapa lama memikirkan apa yang ada dalam isi kepalaku. Kau tahu? Saya mengetik semua ini tanpa melihat keyboard sama sekali. Saya bahkan terkadang mengetik beberapa bagian dari tulisan ini tanpa banyak berpikir. Kau pikir, ada apa denganku? Saya bukan orang yang mudah merasa gelisah, kau tahu? Saya orang yang biasa saja. Satu hal yang saya senangi dalam hidup saya. Saya masih bisa tertawa di saat yang mungkin bagi sebagian orang itu adalah hal-hal yan...

Pangeran Bermata Hijau dan Dua Putri Cantik

#Perempuan 1 Sepasang mata hijau begitu menarik perhatian. Sikapnya sangat berbeda dari kebanyakan anak yang kutemui. Aku tertarik sejak kali pertama melihatnya. Ah, sayangnya dia begitu dingin dengan anak-anak yang lain. Terlalu asik dengan teman-temannya. Aku terlalu takut untuk mengajaknya berkenalan duluan. Kau tahu, hal itu bukan kebiasaanku. Jadilah, aku diam saja. #Perempuan 2 Aku menyebutnya pangeran tak tampan. Dia memang tidak tampan, tidak tinggi, tapi ia memiliki aura pemimpin yang patut untuk dicontohi. Aku tertarik sejak kali pertama mendengarnya berbicara. Ah, ia memang sedikit dingin. Tapi bukannya itu adalah tantangan. Aku akan mencoba mendekatinya. Aku yakin, perlahan ia akan menyukaiku dengan sendirinya. #Pangeran Bermata Hijau Aku melihat dua pasang mata yang sedang menatap harap kepadaku. "Apa yang mereka harapkan dari seorang pria sepertiku?" benakku. Ada seorang perempuan dengan keceriannya, tetapi terlalu takut untuk sekadar memberikan tatapa...

Terimakasihku

Beep.. Sebuah sms dari Erga mengusik pikiranku. Kebetulan sekali, aku memang sedang memikirkannya dan kurasa malam ini adalah malam yang tepat. Ia memintaku untuk bertemu dengannya jam 7 malam di sebuah kafe di Jalan Sudirman. Kuputuskan untuk segera mengiyakannya sebelum ia mengubah pikirannya, seperti yang sering kali ia lakukan ketika kutak kunjung membalas smsnya. “Kamu telat 30 menit, Sayang. Tidak sadar ya?” tanya Erga. “Maaf, ternyata jam ku telat 30 menit,” jawabku. Ia berdecak panjang. “Oya, Happy Birthday Sayang! Ini untukmu,” ucapnya sambil mengeluarkan sebuah kotak berisi cincin berlian. Aku tersenyum lalu meletakkan kotak itu di meja. “Kamu mau tidak menemaniku ke suatu tempat malam ini?” “Oke. Tapi kita makan dulu ya!” “Aku minum jus jeruk saja, ya. Aku lagi diet.” “Oh oke. Aku panggilin pelayannya dulu.” Setelah selesai, aku menarik tangan Erga menuju mobilnya. Aku bersikeras untuk mengemudikan mobilnya ke tempat yang kuinginkan, sementara ia harus duduk di belakang deng...

Malam Pergantian Tahun

Malam ini malam pergantian tahun pertamaku tanpa suamiku. Ia meninggal  setahun yang lalu tepat di penghujung tahun 2012. Aku masih sering nangis bila mengingatnya. “Uang dari mana ini, Nak? Kamu mencuri ya?” tanpa menunggu jawabannya aku langsung mengambil sapu ijuk yang kuletakkan di balik pintu kamar. “Bu, tolong jangan pukul Amir, Amir tidak mencuri Bu. Demi Tuhan Amir tidak mencuri,” Ujarnya cepat sebelum sapu ijuk yang kugenggam sempat melayang ke betisnya. “Terus uang ini darimana?” tanyaku tidak sabar. “Meskipun kita miskin, kamu jangan pernah mencuri nak!” “Amir tidak mencuri, Bu. Siang tadi Amir menjajakan terompet dan kembang api di jalanan. Daeng Gani yang tinggal di lorong sebelah sana yang memintaku membantunya menjajakan dagangannya. Untungnya lumayan, Bu” “Besok-besok kamu tidak usah bekerja lagi. Kamu masih kecil, Nak, belum waktunya bekerja. Ibu bisa kok membiayai kamu.” “Tapi, Bu--” “Tidak ada tapi-tapian, masuk kamar kamu!” Perintahku. “Tapi, Bu, Amir mau meray...

Rama, Shinta, dan Si Kacamata Cupu

Aku akan mengurus beberapa keperluan yang harus diurus di Jakarta selama seminggu sebelum aku diberangkatkan ke Jepang. Aku akan bersekolah di sana selama 2 tahun. Suamiku? Tentu saja aku akan mengajaknya. Pesawatku seharusnya sudah take off saat ini, namun orang bandara menelponku sore tadi bahwa pesawat menuju Jakarta delay hingga pukul 10 malam sementara jam yang kukenakan telah menunjukkan pukul 7.30. Itu artinya aku harus cek in di bandara kurang lebih setengah jam lagi. Lalu, apa yang kulakukan di kafe bersama si Kacamata Cupu ini? Benakku. Aku harus segera berangkat. “Kamu sudah memberitahu suamimu bahwa pesawatnya delay?” keningku berkerut, mencoba mengingat-ingat kejadian sore tadi hingga sekarang. “Ya ampun, aku lupa. Thanks for reminding bro,” dia pasti sibuk sehingga lupa menelponku. Kupikir aku saja yang menelponnya. “Nyari apa, ta?” tanya si Kacamata Cupu, oya dia sahabatku sejak SMA, namanya Darman, lengkapnya Sudarman. Dia asli Jawa, sementara aku asli Sulawesi. Aku aka...

About Me

authorI'm just a woman who dreams a lot. I always fall in love with the beauty of universe which makes me curious to visit some new places. I'm an art lover, I'm an artist for my self, not everyone. I fall easily for beauty and funny things. I stay up almost everyday and laugh a lot. That's how I enjoy a life. Enquiries - Email on alzhainmelody.gmail.com. Cheers!


Recent Post on Instagram