Kembali

Mungkin tahun 2012 adalah masa-masa ketika saya meluangkan sebagian besar waktu saya untuk menulis. Menulis cerita pendek dan puisi pada tepatnya. Saat itu saya bergabung di grup kepenulisan dan mengikuti kegiatan-kegiatan menulis cerita pendek. Dari sekian banyak tulisan yang saya kumpul, beberapa berhasil dimuat di buku antologi cerpen.  Selain sibuk menulis cerpen, saya juga sempat belajar menulis skenario film televisi. Saya tidak ingat apakah saya pernah mengirimkannya kepada penulis senior yang sudah sering menulis skenario film. Yang saya ingat adalah bahwa saya masih menyimpan file skenario film televisi itu di kumpulan tulisan saya di laptop. Sepertinya kalaupun memang saya pernah mengirimnya, wajar saja tidak dilirik, ide ceritanya memang sangat biasa alias tidak menarik sama sekali. Hahaha. Payah.  It was 2012. 2013 and 2014? Not anymore . Sampai akhirnya pada tahun 2015 ada kegiatan kepenulisan lagi. Kali ini dengan tema dan event yang berbeda yaitu 30 Hari ...

Malam Pergantian Tahun


Malam ini malam pergantian tahun pertamaku tanpa suamiku. Ia meninggal  setahun yang lalu tepat di penghujung tahun 2012. Aku masih sering nangis bila mengingatnya.

“Uang dari mana ini, Nak? Kamu mencuri ya?” tanpa menunggu jawabannya aku langsung mengambil sapu ijuk yang kuletakkan di balik pintu kamar.

“Bu, tolong jangan pukul Amir, Amir tidak mencuri Bu. Demi Tuhan Amir tidak mencuri,” Ujarnya cepat sebelum sapu ijuk yang kugenggam sempat melayang ke betisnya.

“Terus uang ini darimana?” tanyaku tidak sabar. “Meskipun kita miskin, kamu jangan pernah mencuri nak!”

“Amir tidak mencuri, Bu. Siang tadi Amir menjajakan terompet dan kembang api di jalanan. Daeng Gani yang tinggal di lorong sebelah sana yang memintaku membantunya menjajakan dagangannya. Untungnya lumayan, Bu”

“Besok-besok kamu tidak usah bekerja lagi. Kamu masih kecil, Nak, belum waktunya bekerja. Ibu bisa kok membiayai kamu.”

“Tapi, Bu--”

“Tidak ada tapi-tapian, masuk kamar kamu!” Perintahku.

“Tapi, Bu, Amir mau merayakan tahun baru bersama teman-teman Amir.”

“Apa sih pentingnya tahun baru, Nak? Kamu tidak ingat, ayahmu meninggal karena apa?”

Terompet dan kembang api sering kali mendatangkan kebahagiaan tetapi tak jarang mengundang bencana. Kembali kuingat tubuh suamiku yang terkujur lemah di tengah letupan kembang api dan riuh teriakan terompet.

@alzhainmelody
28 Desember 2012

Comments

Popular posts from this blog

Surat Cinta Rahasia

Pangeran Bermata Hijau dan Dua Putri Cantik

Kisah Si Gadis Kecil

About Me

authorI'm just a woman who dreams a lot. I always fall in love with the beauty of universe which makes me curious to visit some new places. I'm an art lover, I'm an artist for my self, not everyone. I fall easily for beauty and funny things. I stay up almost everyday and laugh a lot. That's how I enjoy a life. Enquiries - Email on alzhainmelody.gmail.com. Cheers!


Recent Post on Instagram