Kembali

Mungkin tahun 2012 adalah masa-masa ketika saya meluangkan sebagian besar waktu saya untuk menulis. Menulis cerita pendek dan puisi pada tepatnya. Saat itu saya bergabung di grup kepenulisan dan mengikuti kegiatan-kegiatan menulis cerita pendek. Dari sekian banyak tulisan yang saya kumpul, beberapa berhasil dimuat di buku antologi cerpen.  Selain sibuk menulis cerpen, saya juga sempat belajar menulis skenario film televisi. Saya tidak ingat apakah saya pernah mengirimkannya kepada penulis senior yang sudah sering menulis skenario film. Yang saya ingat adalah bahwa saya masih menyimpan file skenario film televisi itu di kumpulan tulisan saya di laptop. Sepertinya kalaupun memang saya pernah mengirimnya, wajar saja tidak dilirik, ide ceritanya memang sangat biasa alias tidak menarik sama sekali. Hahaha. Payah.  It was 2012. 2013 and 2014? Not anymore . Sampai akhirnya pada tahun 2015 ada kegiatan kepenulisan lagi. Kali ini dengan tema dan event yang berbeda yaitu 30 Hari ...

Fiksimini - Semoga Tuhan Memaafkanku

Sudah sejam kubermondar-mandir di beranda rumah, namun Dera tak juga menunjukkan tanda-tanda kedatangannya.
Nada sms hpku berbunyi, kupikir itu dari Dera. Segera kubaca dan kuletakkan kembali. Bukan.

Kumatikan lampu di seluruh ruangan, kecuali lampu beranda. Menunggu di ruang tamu sampai akhirnya kumendengar derak langkah kaki  yang samar.
Kunyalakan lampu dan mendapati Dera masih dengan seragam SMAnya, wajahnya pucat dan matanya memerah.

"Anak gadis macam apa yang baru pulang rumah jam segini, hah?"

Ia mengacuhkanku, berlari ke kamarnya kemudian mengunci pintunya. Kugedor-gedor pintu kamarnya sambil memanggil namanya berulang kali. Tak ada jawaban.
"Besok sepulang sekolah, langsung pulang!"

****

Sorot matahari membangunkanku di pagi itu. Aku berlari ke dapur lalu menyiapkan sarapan untuk Dera.
“Nak, sarapan dulu baru ke sekolah.”  Aku mengetuk pintu kamarnya berkali-kali. Kamarnya masih terkunci rapat sehingga aku tak dapat masuk.
Perasaanku dilanda kecemasan hingga akhirnya kumendobrak pintunya. Sebuah tubuh terkujur lemah di hadapanku.

***
 “Maaf Bu, kami sudah berusaha mengeluarkan racun di tubuh Dera... Namun ia dan anak yang sedang dikandungnya telah menemukan pintu kematiannya.”

Tubuhku dilanda goncangan hebat. Butir air mataku berjatuhan bersama tanda tanya besar perihal sosok kecil bernama cucu. Kurasa usahaku menjadi ibu sekaligus ayah bagi anakku gagal total. Akulah ibu terburuk sepanjang masa. Maafkan aku Tuhan.

@alzhainmelody

Comments

Popular posts from this blog

Surat Cinta Rahasia

Pangeran Bermata Hijau dan Dua Putri Cantik

Kisah Si Gadis Kecil

About Me

authorI'm just a woman who dreams a lot. I always fall in love with the beauty of universe which makes me curious to visit some new places. I'm an art lover, I'm an artist for my self, not everyone. I fall easily for beauty and funny things. I stay up almost everyday and laugh a lot. That's how I enjoy a life. Enquiries - Email on alzhainmelody.gmail.com. Cheers!


Recent Post on Instagram