Arrggghhhhhh...
Teriakan disertai isakan tangis itu berhasil membuat gadis mungil berambut ikal itu terduduk lemas di pasir putih Pantai Bira. Untung saja hari sudah gelap, hanya segelintir orang yang masih berlalu lalang di pinggiran pantai itu. Suara teriakannya lumayan kencang, namun suara ombak sedikit dapat menyamarkannya.
Detik demi detik berlalu, ia tak juga beranjak. Tidak lama setelah itu, isakan tangisnya mereda. Ia menghapus bekas air matanya dengan pinggiran bajunya. Kembali terngiang kata-kata Ayahnya di telinganya, sejam sebelum ia berangkat ke pantai bersama teman-temannya.
“Zahra, kamu boleh pergi ke Pantai Bira bersama teman-teman kamu. Tapi ingat ya Nak. Seminggu lagi adalah hari pernikahan kamu dengan Nak Farid. Jaga dirimu baik-baik, jangan sampai kamu kenapa-kenapa.”
Ia mengingat mata ayahnya yang sarat kekhawatiran, tidak sanggup melihat anak gadis satu-satunya pergi berwisata tanpa dirinya. Sedangkan dalam hatinya, ia hancur. Tidak pernah sekalipun ia menerima perjodohan itu.
“Ini bukan kisah Siti Nurbaya, ini hidupku, aku yang berhak menentukan kapan dan dengan siapa aku harus menikah kelak,” ungkapnya dalam hati. Ia tidak lagi memiliki tenaga untuk berteriak. “Aku toh tidak mengenal cowok itu, siapa sih dia? Kenapa sih dia mau menikah dengan gadis SMA seperti aku?,” gumamnya lagi.
“Sudah hampir jam 10 malam, dek. Tidak balik ke villa?” suara itu menyentakkan tubuh Zahra, bayangannya tentang seseorang yang akan menikahinya minggu depan seketika memudar. Ia menatap wajah pemilik suara itu sejenak, seorang laki-laki jangkung, berambut pendek dan sedikit ikal yang dibiarkan berantakan. “Jam segini banyak pemuda-pemuda nakal berkeliaran di pinggiran pantai loh. Mendingan kamu balik deh!” kata laki-laki itu lagi.
“Jam segini?” tanya Zahra.
“Ia. Mau aku antar pulang?”
“Kamu pikir aku bodoh?” suara Zahra mengeras. “Kamu kan pemuda-pemuda nakal itu?” tanyanya sambil beranjak pergi dari tempat itu. Tiba-tiba ia merasa ada seseorang yang menarik tangan kanannya. Ada dorongan yang kuat dalam dirinya untuk segera berteriak. Terlambat. Mulutnya sudah dibungkam erat-erat oleh tangan si pemuda yang mengajaknya berbicara di pinggiran pantai tadi. Ia mencoba melepaskan diri, namun ia tidak cukup kuat.
“Ya Tuhan, aku lebih baik kehilangan detik-detik terakhirku menjadi anak SMA daripada kehilangan detik-detik terakhirku di dunia. Aku belum siap,” mohonnya dalam hati. Ia masih meronta-ronta. Berharap pemuda itu segera melepaskannya. “Ayah maaf, Zahra tidak menjaga diri dengan baik!” gumamnya lagi. Air matanya menetes. “Tuhan tolong aku, pleaseee! Aku janji akan mengikuti semua perintah ayahku bila aku selamat malam ini!” Tiba-tiba ia merasa kepalanya sangat pusing.
***
Suara ombak di pagi hari membangunkan Zahra dari tidurnya. Ia tersadar akan kejadian semalam lalu memeriksa pakaian dan tubuhnya di balik selimut. Ia merasa tidak ada yang aneh. Tiba-tiba sebuah suara terdengar di luar kamarnya.
“Loh kok Nak Farid ada di sini?”
Ia mengenal suara itu. “Farid?” batinnya.
Ia melihat ayahnya sedang berbicara dengan akrabnya dengan seseorang yang ia temui di pinggir pantai semalam.
“Kalian sudah saling kenal rupanya?” kata Ayahnya.
“Dia...” Zahra mencoba menjelaskan. Namun pemuda itu memberi kode agar tidak memberitahu apapun. “Hmm, sudah kok!”
“Berarti kamu sudah setuju menikah dengan Nak Farid?”
Aku mengingat janjiku semalam, kurasa ini detik-detik terakhirku menjadi nak SMA. Akupun mengangguk.
“Aku bisa menunggu sampai Zahra tamat SMA kok, Om!” kata Farid pada Ayahku kemudian. Memecah keheningan yang sempat menyergap kami bertiga.
“Beneran?” tanya Zahra memastikan.
Farid mengangguk lalu tersenyum.
"Oh God, thank you so much," gumam Zahra dalam hatinya. Ia sangat bahagia.
Comments