Kembali

Mungkin tahun 2012 adalah masa-masa ketika saya meluangkan sebagian besar waktu saya untuk menulis. Menulis cerita pendek dan puisi pada tepatnya. Saat itu saya bergabung di grup kepenulisan dan mengikuti kegiatan-kegiatan menulis cerita pendek. Dari sekian banyak tulisan yang saya kumpul, beberapa berhasil dimuat di buku antologi cerpen.  Selain sibuk menulis cerpen, saya juga sempat belajar menulis skenario film televisi. Saya tidak ingat apakah saya pernah mengirimkannya kepada penulis senior yang sudah sering menulis skenario film. Yang saya ingat adalah bahwa saya masih menyimpan file skenario film televisi itu di kumpulan tulisan saya di laptop. Sepertinya kalaupun memang saya pernah mengirimnya, wajar saja tidak dilirik, ide ceritanya memang sangat biasa alias tidak menarik sama sekali. Hahaha. Payah.  It was 2012. 2013 and 2014? Not anymore . Sampai akhirnya pada tahun 2015 ada kegiatan kepenulisan lagi. Kali ini dengan tema dan event yang berbeda yaitu 30 Hari ...

Rama, Shinta, dan Si Kacamata Cupu


Aku akan mengurus beberapa keperluan yang harus diurus di Jakarta selama seminggu sebelum aku diberangkatkan ke Jepang. Aku akan bersekolah di sana selama 2 tahun. Suamiku? Tentu saja aku akan mengajaknya.

Pesawatku seharusnya sudah take off saat ini, namun orang bandara menelponku sore tadi bahwa pesawat menuju Jakarta delay hingga pukul 10 malam sementara jam yang kukenakan telah menunjukkan pukul 7.30. Itu artinya aku harus cek in di bandara kurang lebih setengah jam lagi. Lalu, apa yang kulakukan di kafe bersama si Kacamata Cupu ini? Benakku. Aku harus segera berangkat.

“Kamu sudah memberitahu suamimu bahwa pesawatnya delay?” keningku berkerut, mencoba mengingat-ingat kejadian sore tadi hingga sekarang.

“Ya ampun, aku lupa. Thanks for reminding bro,” dia pasti sibuk sehingga lupa menelponku. Kupikir aku saja yang menelponnya.

“Nyari apa, ta?” tanya si Kacamata Cupu, oya dia sahabatku sejak SMA, namanya Darman, lengkapnya Sudarman. Dia asli Jawa, sementara aku asli Sulawesi. Aku akan tertawa geli setiap kali mengingat kejadian saat kali pertama kubertemu dengannya sore itu di SMA tercinta kami. Ya kejadiannya di WC sekolah, ia melompat-lompat sambil sesekali bergidik. Aku tertawa terbahak-bahak melihatnya. Dia sangat takut dengan serangga yang bernama kecoak, serangga kecil yang menurutku tidak mengerikan sama sekali.

“Nyari, ini nih!”Aku menakutinya dengan serangga kecoak mainan yang kerap kali kugunakan untuk menjahilinya. Kulihat ia bergidik sambil mendorong kursinya menjauh dari tempatku. Tawaku pecah melihatku tingkahnya. Ia masih saja belum bisa menghilangkan fobianya terhadap kecoak. “Fobia kamu belum juga sembuh ya?” Aku berdecak.

“Ah rese’ banget kamu. Aku hampir mati karenamu, tahu,” ujarnya sambil mengusap-usap datanya. Merapikan letak kacamatanya dan kemejanya. Dasar cupu, benakku.
“Sorry bro. Aku lagi pusing nih, Hpku yang buat khusus nelpon Kak Rama gak ada.” Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal.

“Nyari yang bener dong!”

“Sudah, gak ada nih. Lihat aja kalau gak percaya!”

“Gak ah, tas kamu berbahaya.” Tawaku kembali pecah mendengar kata-katanya.

“Ya sudah, kita balik homeku dulu deh, kayaknya sih ketinggalan. Aku pamitan langsung saja sama Kak Rama. Ia pasti sudah di rumah jam segini.”

“Tapi kan kamu harus cek in 20 menit lagi.”

“Telat dikit ga papa kok. Orang bandara pasti mengerti.”

“Kamu yakin, rumah kamu lumayan jauh loh dari bandara.”

“Yakin, tidak usah cerewet. Aku aja yang bawa mobilnya.”

“Gak usah, aku saja.”

“Nah gitu dong, ini baru sahabatku yang paling cupu sedunia. Hahaha.” Kulihat ia memonyongkan bibirnya.

“Nah kamu sahabatku paling ambisius sedunia,” kata Darman sambil menjulurkan lidahnya. Tingkah kami masih belum berubah, masih sama seperti 9 tahun yang lalu.

Sampailah aku di rumahku yang sederhana ini. Meskipun begitu, aku dan suamiku, Kak Rama, mendapatkannya dengan hasil peluh kami selama setahun ini. Sebenarnya rumah ini masih dicicil. Kami tidak mungkin mendapatkan uang untuk membeli rumah hanya dalam kurun waktu setahun.
Aku dan Darman saling berpandangan. Rumah ini terlihat sepi layaknya rumah tak berpenghuni. Lampu di beranda rumahpun tidak dinyalakan. Tetapi kulihat mobil Kak Rama sedang terparkir rapi di dalam garasi. Ia mungkin sudah tidur dan lupa menyalakan lampu, pikirku.

“Kamu tunggu di mobil saja. Aku cuma akan mengambil Hpku dan pamit.” Darman mengangguk saja mendengar kata-kataku. Aku sebenarnya lebih memilih diantar sama suamiku sendiri daripada menyusahkan orang lain. Tetapi suamiku bilang ia sedang banyak kerjaan sehingga tidak sempat mengantarku ke bandara. Apa dia sudah tidur ya karena kelelahan? Semoga saja acara pamitanku tidak mengganggu tidurnya.

Pintu utama rumah pasti sudah terkunci, untung saja aku punya kunci cadangannya. Seekor serangga kecil di lantai mengagetkanku hingga tak sengaja kumendorong pintu utama rumahku. Aku bergidik, rumahku tidak kemalingan kan. Mengapa bisa tidak terkunci. Dengan pelan kulangkahkan kakiku memasuki setiap ruang menuju ruang keluarga kecilku. Hanya ada aku dan Kak Rama yang menempati rumah sederhana ini.

Tuhan, mengapa tak satupun lampu yang dinyalakan. Kurasa tubuhku bergetar, dan mulutku tak henti-hentinya melafalkan doa, semoga tidak ada orang jahat yang memasuki rumahku ini. Aku mencari-cari letak saklar dengan bantuan cahaya Handphoneku dan akhirnya aku menemukannya. Seketika kegelapan dalam ruangan ini menghilang.

Aku tidak percaya dengan yang kulihat saat ini. Rumahku memang benar-benar dimasuki oleh orang jahat. Harusnya aku tidak pernah melafalkan kata-kata penjahat itu sehingga ia berubah menjadi doa. Aku tidak melihat satupun penjahat harta di hadapanku, yang kulihat adalah suamiku dan seorang wanita cantik dipelukannya.

Aku tak heran bila banyak wanita yang tergila-gila dengannya. Ia tampan, pintar, dan sangat ramah kepada semua orang. Aku mengaguminya sejak kali pertama kumelihatnya berbicara di depan semua siswa baru, saat menyampaikan beberapa patah kata mengenai sekolah kami tercinta. Aku sering berpapasan dengannya di perpustakaan sekolah, terkadang kumelihatnya duduk berdampingan dengan seorang teman sekelasnya, namanya Kak Mita. Beberapa temanku berkata mereka pacaran saat itu. Aku bergegas meninggalkan perpustakaan setiap kali melihat mereka berdua. Mencintai membuat kita melayang-layang di udara, tetapi tak jarang menjatuhkan kita dari ketinggian.

Aku menyambar salah satu guci hadiah pernikahan kami dari Ibuku hingga pecah. Gelegar suaranya membuyarkan pikiranku dari bayang-bayang masa lalu. Tiba-tiba kedua orang di hadapanku ini saling menjauhkan tubuhnya masing-masing. Ia baru menyadari kehadiranku setelah mendengar pecahan guci, kurasa temaram lampu tadi tak membuat mereka kaget sama sekali.

“Shinta, bukannya kamu sudah berangkat ke Jakarta?” tanya Kak Rama dengan terbata-bata.

“Aku lupa membawa handphoneku, aku juga sebenarnya mau sekalian pamit, tapi sepertinya acara pamitanku mengganggu kamu dan Kak Mita. Maaf ya!” Aku mendesah, sekali lagi perkataanku menjadi doa. Aku bergegas menuju kamarku untuk mengambil handphoneku. Kusapukan pandanganku pada seluruh bagian dari kamar ini, yang terakhir jatuh pada sebuah foto pernikahanku dengan Mas Rama satu setengah tahun yang lalu. Cara dia melamarku di lapangan sekolah 2 tahun yang lalu membuatku yakin, ia akan menjadi suami yang baik. Tetapi yang terjadi sekarang, seolah menghapus semua keyakinanku kepadanya.

“Arghhh.”

Suara jeritan yang sangat keras terdengar dari ruang keluarga rumahku. Itu pasti suara Kak Mita, ada apa ya? Pikirku.

“Jadi begini cara kamu memperlakukan istrimu, Kak?” kulihat wajah Darman memerah saat melayangkan tinjunya ke pipi kanan Kak Rama. Napasnya memburu satu tinju lagi mendarat di tempat yang sama. Kak Rama membalas pukulan Darman dengan satu pukulan di perut. Tubuh Darman terhuyung, ia terlihat sangat kesakitan.

“Stop!” kataku sesaat sebelum Kak Rama mendaratkan kakinya ke wajah Darman. “Stop Kak Rama. Kamu juga Darman, kamu tidak perlu melakukan ini semua.” Aku sudah tidak bisa lagi menahan tetesan hangat ini jatuh ke pipiku. Tetesannya semakin lama semakin deras.

“Shinta, maafkan aku, tapi aku,”

“Aku apa Kak?” Potong Darman. “Semuanya sudah jelas. Ngapain Kak Rama berduaan dengan,” matanya melihat jijik kak Mita yang berdiri di samping Kak Rama, ia pasti sudah lupa bahwa wanita ia adalah mantan pacar kak Rama saat SMA dulu, “wanita murahan seperti ini.”

“Apa lo bilang? Gue murahan?” Kutepis tangan Kak Mita sesaat sebelum tamparannya melayang ke wajah Darman.

“Jangan, kak!” pintaku.

“Sebutan apalagi yang pantas untuk seorang wanita yang mendekati lelaki beristri seperti kamu? Hah?” Emosi Darman memuncak. Sementara aku, aku tak lagi sanggup berkata-kata. Aku berlari meninggalkan rumah dengan pikiran yang kalut, aku bingung, aku tak tahu harus berbuat apa.

“Maafkan aku, ta” langkahku terhenti oleh suara sendu Kak Rama. Aku terlalu lemah, tak pernah sekalipun aku marah padanya. Aku mungkin terlalu menyayanginya. Entahlah.

“Maaf kak, aku harus pergi.”Ia meraih lenganku lalu berlutut memohon maaf.

“Aku mohon, ta” ia membawaku dalam pelukannya yang hangat. Namun hanya sedetik , karena setelah itu kumenjauhkan tubuhku darinya.

“Dalam membangun sebuah keluarga, kepercayaan adalah hal yang paling penting, kak. Bukannya kak Rama yang selalu bilang padaku. Uang itu bisa dicari, tetapi kepercayaan tidak. Sekali hilang, kamu tak akan menemukannya di manapun kamu mencarinya. Aku percaya itu, selalu percaya. Tetapi kejadian tadi, benar-benar telah membuat kepercayaanku pada Kak Rama luntur.”

“Aku akan memperbaikinya, aku janji.”

“Beri aku bukti kak, bukan janji.”

Sejam lagi pesawatku take off, sementara aku belum cek in. Masalah ini tidak semestinya membuatku impianku belajar ke Jepang musnah seketika. Aku harus berangkat sekarang. Semoga saja kejadian ini hanyalah ornamen tambahan dalam rumah tanggaku. Langit saja membutuhkan ornamen agar tampak indah, kan.

“Kita harus berangkat ke bandara sekarang, ta!” Darman meraihku tanganku.

“Baiklah. Aku jalan dulu Kak.”

 “Aku yang akan mengantarmu, Shinta, bukan dia.” Ia menepis tangan Darman dan menjauhkanku darinya. “Kamu tidak perlu mengantar istriku.”

“Jadilah suami yang baik kak, seharusnya kamu melakukan ini dari kemarin-kemarin.”

“Kamu tidak usah menyeramahiku, Darman. Aku tahu apa yang kulakukan,” ujar Kak Rama.

“Aku berangkat sama Darman saja, kak,” kataku melepas genggaman tangannya.

“Ayolah, Shinta. Aku suamimu, bukan dia.”

“Dia sahabatku, kak. Dia yang selalu ada saat aku membutuhkan teman untuk berbagi, bukan kak Rama. Kak Rama, entah kak Rama menganggapku apa selama ini.”

“Aku sayang sama kamu, Shinta. Aku tidak mungkin menikahi wanita yang tidak kucintai.”

“Kalau begitu buktikan, kak,” kataku akhirnya. “Aku harus pergi kak, maaf. Tolong jaga rumah baik-baik. Aku akan menelponmu setelah aku sampai.”

“Aku ikut kamu ke bandara,” timpalnya. “Kamu tidak bisa membiarkanku tinggal di sini sementara kamu akan meninggalkanku di sana selama seminggu.”

“Ya sudah, terserah kamu saja, kak.”

Lalu akhirnya, aku, Rama, dan Darman menuju ke bandara dengan menggunakan mobil Darman. Kak Mita? Aku tak tahu. Mungkin sudah pulang ke rumahnya. Ia sepertinya belum bisa menerima keputusan Kak Rama memutuskannya dulu hingga ia berusaha merusak rumah tanggaku dengan Kak Rama. Seperti kataku tadi, anggap saja semua itu ornamen tambahan dalam sebuah rumah tangga. Seperti batu berlian, keindahannya tak akan pernah terlihat bila tak ada  benda keras lain yang menekannya.

“Pesawatku sebentar lagi take off kak, aku harus pergi,” kataku dengan sambil lalu.

“Ta, kamu mau memaafkan aku?” tanyanya penuh harap.

“Aku belum bisa, kak. Kak Rama tidak tahu, bagaimana sakitnya hatiku saat ini.”

“Aku mohon, ta. Itu tadi bu--” nada dering smsku menyela kata-katanya. Sebuah sms dari Kak Mita, pikiranku kembali berkelebat akan kejadian barusan di ruang keluargaku sendiri. Mengapa keduanya begitu tega menghianati aku.

--Aku minta Shinta atas kejadian barusan. Kejadian itu sepenuhnya salah aku, aku yang mendekati Rama. Ia menolakku, selalu. Tetapi aku tidak ingin melepaskannya, aku masih berharap ia memilihku menjadi istrinya. Tetapi aku sadar, ia tidak akan pernah memilihku. Hatinya sudah seutuhnya milikmu. Aku seharusnya malu, kamu memang istri yang baik untuk Rama, bukan aku. Sekali lagi aku minta maaf ta. Tolong maafkan Rama, ia tidak salah.-- 

“Ta, itu tadi bukan salah aku. Aku berani sumpah. Aku tidak melakukan apapun pada Mita. Dia--”

“Hussshh” Aku membungkam bibirnya dengan jari telunjuk kananku. “Sejak kapan kamu jadi cerewet sih, kak,” ujarku. “dan soal kejadian tadi, aku minta maaf, Kak, aku tidak bisa--” kataku dengan pelan sambil kutundukkan wajahku, “tidak memaafkanmu, Kak.” Kulihat wajahnya berubah cerah. Seketika ia meraih wajahku dan mengecup kepalaku dengan lembut.

“Makasih, Ta. Kamu memang yang terbaik. Aku sayang kamu.”

“Aku juga, kak.” Aku mendesah. Mungkin saja aku ini adalah istri terbodoh yang pernah ada, yang dengan mudahnya memaafkan suaminya yang telah melakukan penghianatan. Ah, tapi itu semua bukan salah Kak Rama, kan. Kak Mita sendiri yang bilang bahwa kejadian itu sepenuhnya salahnya. Pondasi sebuah rumah tangga adalah kepercayaan, maka ketika salah satu bagiannya rusak, akan rusak pula sebagian dari pertahanan rumah tangga itu. Aku tidak mau merusak pondasi rumah tanggaku dengan Kak Rama. Aku berharap semua ini tidak terjadi lagi.

Darman, ke mana saja itu anak. Pergi kok tidak bilang-bilang, aku kan harus berangkat sekarang, benakku.

“Aku harus berangkat sekarang, Kak. Tapi Darman ke mana ya?”

“Duarrrr” sebuah suara mengejutkanku. Jantungku berdetak lebih cepat sehingga aku harus mengelusnya untuk meredakannya.

“Ya ampun Kacamata Cupu, kamu ngapain sih? Aku hampir mati tahu gara-gara kamu.”

“Draw. 1 sama. Hahaha” Tawanya pecah, menampilkan sisi lain dari dirinya. Sahabatku yang satu ini sebenarnya tampan, hanya saja ia terlalu malas memerhatikan dirinya.

“Dari mana aja sih?” tanyaku. “Oya, aku sama Kak Rama sudah baikan. Tadi Kak Mita sms. Katanya kejadian tadi sepenuhnya salah dia, bukan salah Kak Rama. Aku sih tidak bisa percaya begitu saja, yang namanya mantan itu--”

“Ta, aku tidak punya perasaan apa-apa lagi sama dia. Aku serius,” timpal Kak Rama menyela kata-kataku. Aku memamerkan senyum tipisku padanya.

“Aku tahu kok, Kak. Aku becanda.”

“Serius kamu, Ta? Yakin? Ah, dasar bodoh. Bisa saja sms Kak Mita itu cuma modus.” Ujar Darman.

“Eh, enak saja nih anak ngatain aku Bodoh. Kamu Si Kacamata Cupu.” Kataku menjulurkan lidahku.

“Kamu bodoh. Shinta bodoh sekali. Paling bodoh sedunia.” Ejek Darman. Aku tertawa. Ejekannya kekanak-kanakan sekali.

“Darman, tolonglah kamu juga percaya sama aku. Aku tidak mungkin melakukannya.”

“Ya sudah. Aku akan mencoba memercayaimu, Kak.”

“Makasih ya, Kacamata Cupu.” Aku dan Darman saling bertatapan setelah mendengar kata-kata Kak Rama, setelah itu tawa kami pecah hingga kami sakit perut. Sejak kapan, Kak Rama memanggil Darman dengan sebutan Kacamata Cupu. Aneh sekali bila ia yang mengucapkannya. Nadanya kaku dan sangat jelek.

“Sudah dulu ya. Tuh, pesawatnya mau take off. Aku berangkat ya.” Ujarku hendak menjabat tangan suami dan sahabatku.

 “Hei hei, siapa bilang kamu akan pergi sendiri?” tanya Darman. “Kak Rama akan menemani kamu selama di Jakarta, tahu.”

“Rumah? Pekerjaan Kak Rama gimana?” tanyaku.

“Tenang saja, si Kacamata Cupu ini kan anaknya bos. Kalian nikmati saja liburan kalian.”

“Kak Rama tidak membawa satu pakaianpun kecuali yang sekarang di tubuhnya, Darman. Jangan ngaco deh, ia tidak mungkin pergi tanpa membawa sehelai pakaianpun.” Timpalku.

“Kak Rama berangkatnya besok pagi, Nyonya bodoh.”

“Uhh, kamu serius gak sih?” tanyaku tidak percaya dengan ucapannya.

“3 rius deh buat kamu. Hahaha.”

“Kak ini tiket buat besok pagi ya, sebenarnya buat aku sih, tapi kamu lebih berhak menemani Shinta. Karena kamu suami sahabat bodohku ini.” Ujarnya sambil menepuk kepalaku. Sakit.

“Makasih lagi ya Darman.” Ujar Kak Rama. “Dan Shinta, kamu memang tidak salah punya dia sebagai sahabat kamu.” Seutas senyum terurai dari bibir Kak Rama. Senyum tipisnya ini yang membuatku tidak bisa berkutik.

“Ya sudah Kak, nanti aku telepon ya aku nginap di hotel mana,” ujarku, “dan kamu Darman, kamu memang si Kacamata Cupu yang paling TOP sedunia. Aku senang punya kamu sebagai sahabatku. Arigatou ne.” Aku membungkukkan tubuhku sambil mengucapkan terimakasih dalam bahasa Jepang.

“Doitashimashite,” jawabnya dengan bahasa Jepang terbata-bata sambil membetulkan kacamatanya. Lucu sekali. “Anggap saja permohonan maafku karena telah memukul suami kamu yang tercinta,” Tawa kami bertiga pecah.

“Maafkan aku juga ya, Darman,” kata Kak Rama.

“Kalau gitu, Berpelukan!” kata Darman hendak memelukku dan Kak Rama. Seperti Teletubbies saja gaya bicaranya. Aku cekikikan mendengarnya.

“Stop stop, pesawatku udah mau take off nih. Bye Kak Rama, dan bye Si Kacamata Cupu! Shinta berangkat dulu.”

@alzhainmelody
23 Desember 2012

Comments

Mudah2an kak rama bisa dipercaya. tp mnurut sya nih, kak rama itu jahat, kok bisa yah dia mau berduaan dgn mita, apa lagi dipaksa. memangnya dia tdk bsa marah apa.. klw tdk bisa, tp kok dia bisa tuh ninju si cupu.. klw sya jadi shinta nih, sya nga' percaya dgn rama bejat itu..
Auliya Sahril said…
hahhaa,, iya sih. ah ini ceritanya yg bodoh atau penulisnya yg bego. Fufufu..
Hahahah... Idenya bagus.. alurnya teratur.. point of view nya jelas. klimaks jelas. cuman ending mungkin mau diperbaiki sedikit..
Auliya Sahril said…
Makasih Bang Miftahul :p

Popular posts from this blog

Surat Cinta Rahasia

Titikmu Titikku

Fiksimini - Semoga Tuhan Memaafkanku

About Me

authorI'm just a woman who dreams a lot. I always fall in love with the beauty of universe which makes me curious to visit some new places. I'm an art lover, I'm an artist for my self, not everyone. I fall easily for beauty and funny things. I stay up almost everyday and laugh a lot. That's how I enjoy a life. Enquiries - Email on alzhainmelody.gmail.com. Cheers!


Recent Post on Instagram